Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Tuesday, July 5, 2011

Tips Foto Hitam Putih


Foto hitam putih adalah salah satu jenis foto yang tak lekang oleh waktu. Tanpa adanya elemen warna yang mengganggu, kadang foto hitam putih justru lebih kuat membekas di benak yang melihatnya. Orang sering bilang lebih dramatis dan elegan (itulah kenapa fotografer wedding selalu menyertakan beberapa foto hitam putih dalam album yang diserahkan ke klien). Berikut adalah tips memotret foto hitam putih yang mungkin berguna bagi anda :
  • Potretlah dalam mode warna – Kamera digital menghasilkan rentang tone yang lebih lebar dalam mode warna karena dalam mode ini sensor mengambil data dari 3 channel – Red, Green dan Blue atau RGB. Untuk itulah, foto hitam yang dihasilkan dari pengolahan foto warna menggunakan photo editor di komputer akan cenderung lebih baik kualitasnya.
  • Setting ISO serendah mungkin – Noise (bintik-bintik kecil putih yang muncul di foto anda) akan tampak lebih menonjol dalam foto hitam putih dibanding dalam foto warna. Gunakan ISO serendah mungkin supaya pada saat foto di proses nantinya, noise bisa diminimalkan.
  • Mendung adalah saat terbaik – Adanya mendung akan membuat kontras lebih rendah, dan ini adalah saat terbaik untuk membuat foto hitam – putih. Anda tidak akan terlalu perduli warna langit yang abu – abu, toh dalam foto hitam putih tidak akan terlalu terlihat.
  • Eksploitasi tekstur, pola dan garis – Dalam foto hitam putih, tekstur – pola dan garis akan lebih terlihat menonjol dan semakin menarik. Untuk itu eksploitasi-lah jika anda menemukan adanya komponen tersebut.
  • Sidelighting adalah cahaya terbaik – Ketika memotret di luar ruangan untuk foto hitam putih anda, tonjolkan bentuk secara maksimal dengan mengandalkan pencahayaan samping (sidelighting), sehingga jatuh bayangan jadi sangat menarik. Sidelighting terjadi saat anda memotret di pagi atau sore hari.


Referensi by : belajar fotografi

Memahami Konsep ISO

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya mengeset ISO saya di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
Secara garis besar, saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 ( dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av) , kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi:1/500 detik. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh , kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.


Referensi by: belajar fotografi

6 Langkah Mudah Menyiapkan Foto HDR

Foto HDR (High Dynamic Range) adalah foto yang diperoleh dengan mengkombinasikan beberapa foto dengan tone yang bervariasi sehingga menghasilkan satu foto yang meiliki rentang tonal melebihi kemampuan asli kamera.  Sebelum bisa diolah, kita harus membuat beberapa foto mentah yang memiliki eksposur yang berbeda, jumlah foto yang diperlukan adalah antara tiga sampai lima buah. Berikut adalah langkah praktisnya:







  1. Karena kita akan mengggabungkan beberapa foto sekaligus, gunakan tripod supaya hasilnya tajam dan tidak berbayang
  2. Set kamera di mode aperture priority (A atau Av), dengan mode ini kita memilih aperture dan kamera-lah yang menentukan shutter speed
  3. Set fokus pada posisi manual focusing. Cobalah beberapa jepret untuk menentukan fokus di mode autofocus, setelah kita tentukan fokusnya, gantilah focusing ke mode manual
  4. Set automatic bracketing pada kamera untuk menghasilkan 3 sampai 5  buah foto dengan shutter speed bervariasi (Nikon & canon, untuk kamera lain silahkan lihat manual) 
Nikon SLR :
  • Pencet tombol Fn (posisinya di muka bagian bawah)
  • Putar command dial belakang kamera sampai kita melihat tanda bracketing di LCD atas
  • Pilih lima bracketing (atau 3 atau 4, sesuai selera)
  • Ganti posisi release mode pada continous high speed
      Canon SLR :
      • Pencet dan tahan tombol Mode dan AF.Drive untuk mengaktifkan bracketing
      • Set 5 di menu Custom Functions (atau 3 atau 4, sesuai selera)
      • Set kamera di mode burst

      5. Mulailah mengambil eksposur
      6. Untuk pengolahannya kita bisa meng gunakan software khusus untuk HDR seperti Photomatix Pro – (gratis untuk versi demo)  atau melakukannya di Photoshop…

      Referensi by : belajar fotografi

      RAW vs JPEG:Mana Yang Lebih Baik?

      Pengguna kamera digital SLR atau Saku tingkat lanjut (prosumer) sering dihantui pernyataan mendasar sebelum memulai pemotretan: format file apakah yang akan saya pilih, JPEG/JPG ataukah RAW?
      Artikel ini akan membahas secara singkat dan mudah (dijamin tidak ada persamaan matematika dan fisika) beda diantara keduanya.




      Pada dasarnya kebanyakan kamera bekerja dengan cara seperti ini: Saat kita memencet tombol shutter, kamera akan merekam data mentah yang diterima sensor (baca RAW). Berdasar data ini, software di dalam kamera akan memutuskan beberapa parameter, misalnya seberapa jauh foto perlu dipertajam, setting white balance mana yang sesuai, berapa level eksposur yang dipakai, seberapa besar saturasi warna-nya dan seberapa besar beda kontrasnya dll. Hasil pengolahan data oleh software di dalam kamera ini selanjutnya dikirim ke memory card dalam bentuk file JPEG.


      Sudah paham bedanya kan?
      Ya, RAW adalah data mentah yang langsung ditangkap sensor sedangkan JPEG adalah data matang yang sudah diolah oleh software kamera. Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.


      Kenapa harus ada format RAW?
      Bagi sebagian besar penggemar fotografi, hasil olahan kamera seringkali sudah cukup bagus. Namun bagi kalangan profesional dan hobiis serius, mereka tidak rela kamera mengotak-atik foto yang mereka jepret. Format RAW membuat kita bisa mengubah-ubah parameter pemotretan sesuka kita. Dengan bantuan software pengolah RAW (photoshop, lightroom, GIMP, ACDSee dll), kita bisa mengubah nilai eksposur, white balance, saturasi sampai kontras  untuk kemudian menyimpannya dalam format yang lain: JPG atau TIFF.


      Keuntungan memakai RAW?
      • Kita bisa mengotak – atik file mentah menjadi foto matang sesuai keinginan kita.
      • Opsi pengolahan foto menjadi jauh lebih banyak sehingga mereka yang berjiwa super kreatif lebih terpuaskan
      • Informasi yang tersimpan lebih banyak  (jika anda memilih JPEG, kamera akan menghilangkan sebagian kecil data untuk memperkecil ukuran file dan mempercepat  proses pengolahan)
      • Kualitas foto secara keseluruhan lebih baik, ini berkaitan dengan adanya kompresi jika memakai JPEG
      Kerugian memakai RAW?
      • Memakan kapasitas hardisk dan memory card. Karena tidak ada proses kompresi, maka ukuran file RAW jauh lebih besar dibanding JPEG (sekitar 3 sampai 4 kali lebih besar)
      • Memakan waktu lebih banyak. Baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera terutama dalam mode burst) maupun selama pengolahan di komputer (karena ukuran file-nya).
      Jadi Format Apa Yang Sebaiknya Dipilih?
      • Jika anda punya hardisk diatas 500GB, memory card minimal 4GB dan sedang memotret moment (atau orang atau tempat) yang istimewa, pilihlah mode RAW
      • Jika anda sedang memotret hal “biasa” atau butuh memotret berondongan (burst), atau hanya memiliki kapasitas hardisk dan memory card pas-pasan, pilihlah mode JPEG.
      • Atau ambil jalan tengah jika anda punya kapasitas hardisk dan memory card yang berlebih: pilih mode RAW + JPEG (kamera akan menyimpan 2 format sekaligus)
      Catatan :
      • Format file JPEG juga mengijinkan pengolahan foto yang lumayan banyak, hanya hasil dan cakupannya tidak seluas dan sebaik RAW.
      • Tersedia juga format TIFF, namun sebaiknya tidak perlu dipakai karena ukuran file-nya yang segede gajah


      Referensi by : belajar fotografi

      Memotret Siluet

      Siluet adalah foto dengan obyek utama gelap total dengan background yang terang, sehingga yang terlihat adalah bentuk dari obyek utama tadi. Memotret siluet tidaklah sesulit yang dibayangkan, asal anda tahu langkah-langkah dan tips-nya. Silahkan:

      Matikan Flash
      Yang pertama dan terpenting adalah flash di kamera harus dimatikan, kalau tidak anda akan mendapatkan foto biasa (karena obyek utama-nya tidak jadi gelap). Jadi matikan flash dikamera anda
      Cari kondisi pencahayaan yang tepat (backlight)
      Untuk menghasilkan siluet, background anda harus lebih terang dibandingkan dengan obyek utama. Itulah kenapa kebanyakan foto siluet dilakukan saat sunset atau sunrise, dimana matahari (sumber cahaya) ada di belakang obyek yang ingin anda foto (backlighting). Tapi jangan batasi diri, foto siluet bisa dihasilkan kapan saja, pada intinya anda hanya harus menemukan background yang lebih terang dibandingkan obyek utama.
      Carilah obyek yang bentuknya menarik
      Foto siluet akan sangat menonjolkan bentuk obyek utama, oleh karena itu carilah obyek dengan bentuk yang menarik dan memiliki karakter kuat. Perhatikan foto diatas, karena obyek utama (pencari ikan) kehilangan detail dan menjadi sangat gelap, bentuknya justru akan lebih terekspos. Kita bisa melihat dengan jelas batas-batas lekukan bentuk tubuh si nelayan, bentuk jaring dan bingkainya sampai tetesan air yang keluar dari jaring. Anda juga bisa mencoba dengan obyek lainnya.
      Carilah background yang tepat
      Untuk mendapat siluet anda harus menemukan background yang lebih terang. Usahakan juga untuk mendapatkan background yang menarik namun juga tidak ramai sehingga obyek utama terlihat sangat menonjol. Langit dan pantai adalah contoh favorit.
      Ukur eksposur dengan tepat (manual/ auto)
      Sebisa mungkin gunakanlah mode manual eskposur. Set metering di spot metering. Lakukan pengukuran di daerah background yang paling terang. Dalam contoh foto diatas saya mengukur cahaya langit diatas helm. Ubahlah kombinasi aperture dan shutter speed sesuai dengan hasil metering anda, terutama pada aperture pastikan anda set sesuai keinginan anda (aperture besar untuk background yang agak kabur dan aperture kecil untuk background yang tajam). Setelah anda menentukan aperture dan shutter speed yang dipilih, arahkan kamera ke obyek utama. Aturlah h3 yang terbaik dan tentukan fokus di obyek utama, baru kemudian jepret….
      Jika anda tidak bisa menggunakan mode manual, gunakanlah mode auto. Arahkan kamera ke area paling terang, dalam contoh diatas adalah ke langit diatas si pencari ikan, pencetlah setengah shutter anda (jangan pencet penuh) lalu tahan shutter jangan dilepas. Lalu arahkan kamera ke obyek utama anda baru kemudian jepret….
      Jangan takut mencoba
      Cobalah kombinasi aperture dan shutter speed yang berbeda jika anda gagal di kesempatan pertama. Cobalah juga bereksperimen dengan obyek dan lingkungan anda, jangan hanya terpaku pada sunset dan sunrise, karena foto siluet bisa dihasilkan dimanapun.

      Referensi by : belajar fotografi

      Mode Auto - Scene Kamera Digital

      Artikel ini memberikan gambaran garis besar dan karakteristik mode pengoperasian auto dan scene pada kamera digital anda (rata-rata kamera saku dan SLR pemula selalu menyertakan kedua mode ini). Mode auto saat ini sudah lumayan handal untuk sekedar menghasilkan foto yang benar. Dan mode scene merupakan jalan tengah bagi fotografer yang ingin menambah kreativitas namun malas menggunakan mode manual.
      Apakah dengan itu kita tidak perlu memahami mode manual? jawabannya tergantung sejauh mana kepentingan pemotret. Namun yang jelas mode manual menawarkan fleksibiltas dan kreativitas dalam menghadapi situasi apapun dan dalam menghasilkan foto yang benar-benar sesuai dengan kehendak artistik kita. Karena foto yang benar belum tentu foto yang baik.

      Oke mari kita kembali ke mode auto dan mode scene yang paling banyak digunakan:

      • Mode Auto (A)
                Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
      • Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)
                Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
      • Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
                Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan  ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail.

                Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.
      Akan saya pakai saat:
               -   Saya memotret bunga, serangga, kupu-kupu, atau uang koin. Atau,
               -   Saya akan memotret makanan sehingga memenuhi seluruh frame foto saya

      • Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)
                Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak  foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. 
      Akan saya gunakan ketika:
                -    Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola

                -    Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju

      • Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)
                Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu  keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. 
      Saya gunakan mode landscape saat:
                  -    Memotret terasiring yang indah di Bali

                  -    Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur

      • Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)
                Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang.  Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala.
      Saya memakai night mode saat:
                -    Mengambil foto dalam sebuah pesta malam

                -    Memotret jalanan dimalam hari

      • Mode Beach / Snow 
                Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
      • Mode Fireworks 
                Tanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.
      • Mode Panorama
                Memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama.


      Referensi by : belajar fotografi

      8 Tips Memotret Panning

      Panning adalah memotret dengan menggerakkan kamera searah dengan arah gerakan obyek yang ingin dibidik sehingga obyek akan tampak fokus sementara background tampak kabur. Jangan takut hanya karena ada kata ‘teknik’ diatas, berikut beberapa langkah praktis melakukan panning :



      • Jangan gunakan tripod, untuk mengikuti arah gerakan obyek kamera harus bisa bergerak luwes
      • Set kamera pada mode Shutter Priority (S atau Tv)
      • Shutter speed yang digunakan untuk panning adalah antara 1/30 sampai dengan 1/8, jadi set kamera diantara angka tersebut
      • Cari obyek bergerak yang akan dipanning (tips: pilihlah background yang berwarna-warni untuk panning sehingga hasil blur dari background makin menarik)
      • Arahkan kamera mengikuti obyek yang bergerak dan pencet separuh tombol release untuk mengambil fokus.
      • Usahakan tangan bergerak selembut mungkin, gerakan kejut yang mendadak bisa mengakibatkan hasil foto yang tidak menarik
      • Saat tangan kita sudah ‘seirama’ dengan gerakan obyek, pencet tombol release untuk mengambil eksposur
      • Makin banyak berlatih, tangan dan mata kita akan semakin terasah!


      Referensi : belajar fotografi

      Monday, July 4, 2011

      20 Tips about Photography




      Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya merupakan informasi baru.Silahkan!
      • Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan background anda!
      • Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
      • Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda mengenakan kacamata hitam dengan polariser?
      • Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak.
      • Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang paling penting.
      • Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung. Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah.
      • Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang.
      • Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area terang di belakang obyek.
      • Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus membolak-balik halaman kertas.( download buku manual )
      • Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai anda meggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000 misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut: cek White Balance – aktifkan fitur Highlight warning – cek settingan ISO – cek ukuran Resolusi foto anda.
      • Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda melakukannya di kamera.
      • Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG.
      • Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
      • Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
      • Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah memotret.
      • Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya, memegang dan mencobanya
      • Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun akan mengurangi detail foto secara keseluruhan.
      • Kalau warna membuat foto anda terlalu “sibuk” dan ramai, ubahlah foto anda menjadi foto hitam putih
      • Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus foto hitam putih anda.
      • Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik.
          Referensi by : belajar fotografi

          Tips Perawatan Kamera

          Hampir perangkat elektronik yang beredar berbasis teknologi tinggi dengan perangkat gadget berbagai kemampuan dan fitur lainnya. Termasuk KAMERA,saat ini pecinta fotografi baik pemula maupun profesional makin berkembang apalagi dengan para pemula yang baru membeli kamera digital SLR. Perawatan kamera DSLR ini sangatlah penting bagi pemula untuk menambah awet kamera akan maupun setelah digunakan.

          Awalnya pemilik kamera DSLR biasanya begitu perhatian dengan gadget ini, tapi karena kesibukan bisa saja kita mengabaikannya. Oleh sebab itu, DSLR nayatanya butuh perawatan yang baik dari si empunya.
          Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merawat KAMERA DSLR anda :

          1. Bodi Kamera

          Kamera DSLR yang utama adalah bodi kamera karena merupakan bagian terluar yang menonjol dan sering digunakan, untuk itu bersihkan bagian luar bodi dengan kain lembut serta gunakan blower untuk menyingkirkan debu yang nempel pada bagian disetiap bodi. Setelah itu menggunakan blower brush untuk kotoran yang agak sulit dibersihkan, perhatikan juga bagian dengan me-lock up mirror ke atas jika ingin memblower bagian sensor tap ingat bagian sensor adalah bagian yang sangat sensitif jangan sembarang jika anda tidak paham betul.


          2. Perawatan lensa

          mempunyai lensa dengan berbagai ukuran jangan sekali-kali menyentuh bagian optik lensa dengan menggunakan jari hal itu akan menimbulkan bekas, untuk itu gunakan selalu filter pelindung serta pakai lens hood. Jika tidak digunakan selalu perhatikan bagian lensa tutup lensa sehingga setidaknya dapat mengurangi debu menempel hingga terjadi jamur, bersihkan lensa dengan menggunakan blower untuk menyingkirkan debu setelah itu gunakan lens brush lalu lens cloth jika terdapat noda pada lensa.


          3. Baterai
           
          Untuk perawatan dari bagian baterai tidak terlalu menyulitkan hanya saja jangan mencharger batarai secara berleihan, cabut segera jika sudah penuh serta jika kamera tidak digunakan cabut baterai untuk tidak menimbulkan kelembaban dan gunakan baterai original.

          4. Memori Card
           
          Jika tidak digunakan sebaiknya memori card dilepas dan tempatkan pada tempatnya, untuk mengindari kerusakan akibat debu yang menempel serta terhindar dari benda bermedan magnet, hal ini dilakukan untuk lebih awet dalam menggunakan kartu memori.

          5. Penyimpanan kamera

          Kamera seperti DSLR itu harus disimpan dalam udara sejuk untuk terhindari dari kelembaban, atau jika mempunyai dana lebih perlu memiliki drybox yaitu wadah yang mampu mengatur kelembaban dalam menyimpan Kamera DSLR. Atupun cara yang mudah dengan menyimpan dalam kantung plastik berklip serta berikan silica gel didalamnya taruh ditempat kering serta sejuk dan jauhkan dari benda bermagnet.

          Semoga tips ini dapat berguna bagi anda yang memiliki kamera DSLR , sehingga dapat digunakan kembali. Lakukan perawatan pada kamera DSLR anda secara berkala, kalau memang mengalami kerusakan yang cukup parah sebaiknya serahkan kepada ahlinya untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

          View Point dan Angle dalam Photography

          Pada tulisan kali ini saya akan membahas sedikit tentang view point dan angle dalam Photography. View point jika diterjemahkan berarti ‘titik pandang’ dan angle berarti ‘sudut’, dua-duanya sangat lekat dan saling berhubungan dalam dunia photography. Sebelum memutuskan untuk mengambil photo suatu objek biasanya photographer akan mengatur dulu view point dan angle ini secara tepat untuk menghasilkan gambar yang baik.

           View point dan angle yang tepat akan membuat photo terlihat unik dan kuat, pesan atau kesan yang ingin ditampilkan dalam photo pun menjadi jelas. Jika pengambilan photo tidak memperhatikan view point dan angle yang tepat maka hampir bisa dipastikan photo menjadi terlihat biasa-biasa saja dan tidak memiliki hal menonjol yang harusnya ada dalam sebuah photo, itu belum lagi jika sang photographer tidak tepat dalam menentukan DoF (Deep of Field), komposisi dan point of focus (yang ketiganya tidak akan saya jelaskan di sini karena akan terlalu panjang View Point dan Angle dalam Photography ). Di bawah ini saya sertakan satu photo yang menurut saya bisa menjadi contoh bagaimana menentukan view point dan angle dalam photography.

           
          'Sea Walk' by Lorin Hughes

          Lalu bagaimana agar kita dapat menghasilkan hasil pemotretan yang baik dengan memperhatikan view point dan angle dalam photography? Di bawah saya akan memberikan beberapa tips yang mungkin bisa anda pertimbangkan dalam menentukan view point dan angle dalam Photography.


          Tips Dalam Menangani View Point dan Angle dalam Photography

           

          1. Riset

           Anda perlu tahu apa yang harapkan ketika pergi ke lokasi baru untuk mengambil photo. Lakukan sedikit riset dan pastikan apa yang tersedia dalam rangka untuk membuat photo yang sempurna. Pengetahuan adalah salah satu hal penting dalam photography dan jika Anda ingin membuat gambar yang kuat, lakukan riset tentang apa yang  anda inginkan untuk muncul pada photo anda dan apakah unsur-unsur photo yang anda inginkan itu akan dapat anda temui di lokasi pengambilan gambar yang anda tuju.

          Photography
           
          2. Gunakan Kaki Anda

          Setelah Anda tahu apa yang anda cari dan anda telah merencanakan pengambilan gambar, gunakan kaki anda. Cobalah bervariasi dan bergerak di sekitar lokasi dengan kamera Anda. Cobalah mencari angle dengan posisi yang berbeda-beda dan berkeliling untuk melihat apakah ada view point lain yang akan meningkatkan hasil dari photography anda.


          3. Carilah Angle yang Tidak Biasa

          Dari berdiri, berbaring telentang, tengkurap, duduk samapi memanjat pohon atau tangga. Perbedaan angle dalam pengambilan gambar akan menghasilkan perspektif yang berbeda-beda juga. Angle yang lain dapat Anda coba adalah memiringkan kamera. Jika anda melihat seseorang dengan membawa kamera lalu jungkir balik tidak karuan, tenang, dia bukan mabuk melainkan hanya mencari ‘angle yang tidak biasa’ View Point dan Angle dalam Photography 


          4. Penuhi Frame dengan Objek Photography Anda

          Anda sudah memiliki lokasi yang sempurna, view point yang luas dan angle yang unik, tetapi jika objeknya terlalu jauh gambar hanya akan terlihat ‘rata-rata’, so? cobalah untuk lebih dekat dengan objek. Isi frame dengan objek yang ingin anda tekankan dan perhatikan komposisi. Selalu tanyakan pertanyaan apakah komposisi sudah pas? apakah yang melihat photo saya akan langsung menangkap dan mengerti apa objek dari photo saya ini? Jika tidak, pindahkan kaki Anda cari angle yang tepat dan hindarkan elemen-elemen gambar yang tidak perlu.


          5. Trial dan Error

          Selalu coba beberapa kemungkinan dan jangan takut mengambil kesempatan. Mungkin dalam seratus jepretan hanya satu atau dua gambar yang hasilnya baik. No problemo, dalam photography jangan terpaku hanya dengan satu cara pengambilan gambar, gunakan imajinasi dan teruslah mencoba untuk mencari angle dan view point yang terbaik. Menentukan angle dan view point dalam photography itu membutuhkan trial and error serta kreatifitas karena objek yang satu dan objek yang lain tentu berbeda-beda cara ‘menanganinya’.
          Sekian tulisan saya tentang photography kali ini saya akhiri, semoga dapat berguna bagi anda dan.. happy hunting View Point dan Angle dalam Photography

          Referensi by : Tips View Point dan Angle

          Mengenal Kamera Lomo

          Lomografi adalah sebuah bagian dari fotografi analog yang menggunakan kamera khusus yang disebut dengan kamera LOMO. LOMO merupakan singkatan dari Leningradskoye Optiko-Mechanichesckoye Obyedinenie (Penggabungan Mekanis Optik Leningrad). Nama tersebut merupakan sebuah pabrik lensa yang berada di St. Petersburg, Rusia. Pabrik tersebut memproduksi lensa untuk alat-alat kesehatan seperti lensa mikroskop, alat-alat persenjataan, dan lensa kamera. Di Austria, pabrik tersebut menjadi inspirasi bagi sebuah merek dagang komersil untuk produk-produk yang berkaitan dengan fotografi. Merek dagang tersebut bernama Lomographische AG. 
          Kamera lomografi masih menggunakan film gulung sehingga disebut sebagai fotografi analog sedangkan fotografi modern sudah menggunakan teknologi digital dalam pengambilan gambar maupun pengolahannya. Orang-orang yang menyukai lomografi dan yang suka mengambil foto menggunakan kamera LOMO disebut sebagai “lomografer”.


          Kamera LOMO


          Kamera Lomo LC-A merupakan kamera lomografi yang pertama kali diproduksi secara masal.Awal mula lomografi dimulai ketika seseorang yang bernama Michail Panfilowitsch Panfiloff meneliti sebuah kamera yang diperolehnya. Michail merupakan salah satu tokoh terpenting dalam LOMO Russian Arms and Optical yaitu pabrik senjata dan alat-alat optik Uni Soviet. Kamera yang menarik perhatiannya itu didapatkannya dari Jenderal Igor Petrowitsch Kornitzky yaitu orang kepercayaan Menteri Pertahanan dan Industri Uni Soviet. Kamera tersebut adalah Cosina CX-1 yang berasal dari Jepang. 
          Dari hasil penelitian yang dilakukan tahun 1982 tersebut, mereka akhirnya menyepakati untuk meniru dan mengembangkan desain kamera tersebut untuk kemudian diproduksi bagi warga Uni Soviet. Tiruan kamera Jepang itu pun mereka namakan Lomo Kompakt Automat yang juga dikenal dengan nama Lomo LC-A. Cita-cita mereka untuk memproduksi kamera tersebut dalam kuantitas yang besar baru tercapai dua tahun kemudian. Pada awal produksi sebanyak 1100 unit kamera dibuat setiap bulannya hanya untuk pasar di Uni Soviet. Tak lama kemudian, kamera ini sudah diekspor ke negara-negara komunis lain seperti Ukraina, Polandia, Ceko dan Kuba.


          Berbagai Jenis Kamera LOMO


          Namun, produksi kamera tersebut berangsur-angsur lemah hingga ditemukan kembali pada 1991 oleh dua orang mahasiswa di Wina, Austria yaitu Matthias Fiegl dan Wolfgang Stranzinger.Mereka kemudian menggunakan kamera tersebut untuk mengambil gambar di kota Praha dengan cara yang tidak umum.Mereka mencoba untuk mengambil gambar sebanyak-banyaknya dari posisi yang tidak biasa seperti dari pinggul dan melewati kaki.Selain itu, mereka juga memproduksi kamera yang mereka gunakan dan menjualnya dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan kamera lainnya. Lomografi kemudian mulai berkembang dengan pesat setelah kedua mahasiswa tersebut gencar mempromosikan lomografi kepada teman, kerabat, keluarga bahkan orang yang tidak mereka kenal. Sebuah klub pencinta lomografi pun dibentuk di Wina, Austria dan diberi nama Lomographische Gesellschaft atau “Komunitas Lomografi”. Melalui komunitas inilah kemudian berbagai pameran lomografi berhasil dilaksanakan di kota-kota besar seperti St. Petersburg, Wina, Moskow, New York, Berlin, Havana, Zurich, Cologne, Madrid, Kairo dan Tokyo.

          Karena sedikitnya persediaan kamera Lomo saat itu, maka Fiegl dan Stranzinger mengunjungi pabrik LOMO di St. Petersburg. Mereka kemudian berhasil meyakinkan kepala pabrik dan wakil walikota St. Petersburg waktu itu yaitu Vladimir Putin untuk memproduksi kembali kamera Lomo LC-A dalam jumlah yang besar.



          Teknik lomografi
          Sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang pelopornya, maka lomografi sekarang berkembang menjadi teknik fotografi yang mengabaikan aturan-aturan yang ada. Dalam teknik fotografi konvensional, banyak aturan baku yang harus dipatuhi seperti kecepatan rana, ISO, dan bukaan lensa untuk menciptakan sebuah foto yang baik. Sementara itu dalam lomografi aturan-aturan tersebut cenderung untuk diabaikan. Lomografi lebih menekankan untuk menghasilkan foto-foto yang unik sehingga hasilnya pun subyektif.
          Aturan emasKomunitas Lomografi merumuskan 10 aturan emas (golden rules) bagi orang-orang yang ingin mengambil gambar menggunakan kamera lomografi. Aturan tersebut adalah:
          1. Take your LOMO everywhere you go.
          Bawalah kamera Lomo anda kemanapun anda pergi, karena dimana pun anda dapat menemukan obyek foto yang tak terduga.
          2. Use it anytime – day or night.
          Pakailah kamera Lomo anda tanpa batas. Pakai kamera Lomo anda baik siang maupun malam, kapan saja di berbagai situasi dan kondisi.
          3. Lomography is not an interference in your life, but a part of it.
          Jadikanlah Lomografi sebagai bagian dari diri anda dan nikmatilah waktu anda memotret suatu obyek dengan kamera Lomo.
          4. Shoot from the hip.
          5. Approach the objects of your lomographic desire as close as possible.
          Dekati obyek foto anda sedekat mungkin selain karena kamera Lomo umumnya tidak ada zoom, harus ada feel tersendiri antara anda dengan obyek foto.
          6. Don’t think.
          Jangan berpikir, gunakan hati dan penglihatan anda.
          7. Be fast.
          Cepat dalam memotret suatu obyek foto, anda tidak perlu banyak berpikir/berteknik.
          8. You don’t have to know beforehand what you’ve captured on film.
          Anda tidak perlu terlalu memikirkan gambar seperti apa yang akan anda ambil.
          9. You don’t have to know afterwards, either.
          Anda juga tidak perlu memikirkan bagaimana hasil dari gambar yang telah anda ambil.
          10. Don’t worry about the rules.
          Jangan khawatir tentang aturan-aturan fotografi dan jangan terlalu memikirkannya saat anda menggunakan kamera Lomo.

          Tips dan Trik Kamera Lomo


          Ini beberapa Tip dan Trik untuk Kamera Lomo : (semoga membantu :) )

          1. Visualisasikan kreativitas dan imajinasi anda

          Tuangkan ekspresi dan imajinasi anda sebelum memotret dengan Holga dengan menentukan:

          a. Bagaimana format gambar yang akan disajikan?
          Tentukan format ini sebelum kita memasang film, karena pada saat film sudah dipasang di dalam kamera, mask format gambar tidak dapat diganti.
          Format 6×6
          Format 6×4.5
          Format 35mm + Sprocket Hole*
          atau tanpa Mask.

          b. Menggunakan jenis film apa?

          Negatif Colour, BW atau Positif (Slide)…
          Hasil gambar yang kita peroleh sangatlah ditentukan oleh ketiga media film diatas, karena pada dasarnya masing2 film memiliki karakteristik yang berbeda. Hal tersebut menuntut kita untuk lebih jeli dan bijak dalam menggunakan film jenis mana yang tepat untuk objek tertentu, seperti pada situasi ketika memotret “human interest” maka film BW dirasa lebih serasi dan ekspresif untuk digunakan, lantas bukan nya menjadi haram jika kita menggunakan negatif/slide di situasi tersebut.
          Namun jika hasrat kita ingin lebih menonjolkan keunikan “false color” dari proses lab “X-Pro” atau “Cross Processing” cobalah slide, selain menonjolkan warna-warna yang tidak lazim, slide juga membuktikan ketajaman gambar yang superb. Cobalah berbagai macam slide dari brand yang berbeda untuk mendapatkan “false colour” yang berbeda pula.

          c. Light leak…??
          Light leak adalah suatu keadaan kesalahan (gagal) dimana film ter-ekspose cahaya yang tidak seharusnya terjadi, yang mana light leak di Holga adalah manifestasi nyata dari jeleknya konstruksi body kamera sehingga masih memiliki celah untuk cahaya masuk dan mengenai bidang film.
          Umumnya light leak muncul di Holga masa produksi lama sebelum tahun 2002, untuk kualitas Holga produksi sekarang ini masih banyak diperdebatkan oleh para pengguna-nya. Perlu diingat proses unloading film dari Holga harus lebih teliti dan hati2 karena jika ada sedikit kesalahan, film juga dapat ter-ekspose cahaya alias terbakar.
          Seperti yang diungkapkan sebelumnya light leak pada awalnya adalah “kesalahan”, namun pengguna Holga pada umumnya menganggap light leak adalah efek “sakral” yang menambah nilai estetis dari Holga.Bagi saya pribadi, saya lebih memilih absen nya light leak dalam foto-foto yang di hasilkan ketika menggunakan Holga, toleransi light leak bagi saya sebatas gambar “occasional” semata.
          Bagaimana dengan anda??

          2. Kenali Cahaya & Gunakan ISO Film Yang Tepat

          Setelah kita berada di spot pemotretran, lalu kita sudah memperkirakan objek apa saja yang bakal direkam dan sebelum kita “jeprat sana, jepret sini”, kita sebaiknya mengenali dan menganalisa intensitas cahaya di sekitaran spot tersebut. Lalu, tentukanlah ISO film yang tepat untuk digunakan sehingga bisa meminimalisir kesalahan baik itu foto yang under-exposed atau over-exposed.

          Sebaiknya di Holga untuk all-day shooting menggunakan ISO 400 sebagai solusi “mencari aman”.

          3. Pemasangan Film 120

          Pastikan sekali lagi sebelum memajukan film ke angka “1”, jika film sudah terpasang dengan benar, apakah ujung film sudah terkait kencang dengan spool film (sebelah kanan). Putar beberapa “klik” dan pastikan film maju dengan lurus dan sejajar dan di posisi tengah mask, usahakan agar lembar film tidak terlalu kendur ketika diputar. Lihat kembali counter window apakah sudah di preset yang tepat.

          4. Jangan Lupa Melepas Lens Cap

          Hal yang terlihat sangat simple namun berakibat cukup fatal, ketika kita lupa melepas lens cap (tutup lensa) di Holga. Kenapa? Karena viewfinder yang ada pada Holga tidak WYISWYG, pada saat mengintip di viewfinder kita masih mendapatkan citra walaupun lensa masih tertutup, berbeda dengan medium SLR yang konsep viewfinder nya TTL (Through The Lens).
          Pernah saya alami kejadian konyol tersebut, hampir 8 frame saya ambil dengan kondisi lensa tertutup dengan lens cap. Untung saja saya segera menyadari-nya.. mau-tidak-mau saya harus re-compose frame yang telah saya ambil sebelumnya.

          5. Pastikan Zona Fokus Berada di Preset Yang Benar

          Fokus adalah saah satu hal yang krusial dalam proses pengambilan gambar, Holga tidak mempunyai fungsi untuk menentukan titik fokus yang umumnya kita temui pada format SLR AF, melainkan Holga memiliki fungsi pengaturan fokus menggunakan “zona jarak” yang terletak di ring lensa. Sebaiknya disarankan kita mulai untuk “ berhitung” jarak antara kamera dengan objek yang akan kita foto, dan terkadang kita lupa untuk memutar ring fokus di preset yang tepat ketika memotret objek dengan jarak yang berbeda, keteledoran itu yang menyebabkan hasil foto menjadi kurang tajam (out of focus). Berikut skema jarak fokus ideal pada masing-masing preset.

          6. Pastikan Aperture Yang Sesuai

          Kombinasikan fungsi aperture Holga dengan ISO film dan shutter speed yang akan dipakai untuk menghasilkan eksposure yang tepat. Simple-nya, aperture Holga ada 2 tipe bukaan, f/8 (Cloudy) dan f/11 (Sunny).
          Gunakan fungsi bukaan f/8 (Cloudy) jika memotret dalam keadaan “under shade”, dan f/11 (Sunny) jika matahari cerah bersinar. Disarankan jika menggunakan mode BULB, untuk merekam “light trail” cobalah set aperture di f/11, agar mendapatkan speed yang sedikit lebih lama.
          Bandingkan juga hasil ketajaman gambar dari kedua aperture tersebut. 

          7. Pemilihan Objek yang Selektif

          Pemilihan objek yang selektif sebaiknya disertai dengan eksekusi dengan penentuan komposisi dan angle yang tepat. Umumnya, foto yang nyaman untuk dinikmati itu dikarenakan unsur komposisi yang OK!, baik itu dari penempatan objek, permainan garis, perspektif, warna, dll. Lalu, ingin foto tampil lebih UNIK? Cobalah angle yang
          berbeda, low angle; high angle atau terserah sesuai imajinasi anda? Tapi sebelum kita mencoba untuk mendobrak patokan/rules yang telah ada, sebaiknya kita mengetahui dan mempelajari-nya terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya kita tidak salah kaprah.

          8. Pelajari Viewfinder

          Bagi sebagian pengguna Holga 120, mereka tidak terlalu memperdulikan fungsi viewfinder dikarenakan fungsi viewfinder yang tidak terlalu akurat dalam menyampaikan citra. Tetapi itu semua seharusnya menjadi hal yang sepele jika kita berniat untuk lebih meng-analisa, dikarenakan posisi viewfinder Holga berada di sebelah kiri lensa maka jika kita memposisikan objek di “CENTER” dari hasil intipan viewfinder, sebetulnya objek tersebut posisi-nya
          cenderung lebih ke “KIRI” (± 10% dari cakupan viewfinder). Jadi pertimbangkan kembali untuk mengkomposisikan kembali frame tersebut sedikit ke-arah kanan (± 10% dari cakupan viewfinder).

          **Sumber : koelitinta.com